Mukena Untuk Ibu Dari Surga!?

Mukena Untuk Ibu Dari Surga

Azan subuh berkumandang.Aku pun bergegas bangun dari tempat tidurku,lalu bergegas mengembil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Aku bergegas pergi ke mushola dekat rumahku. ketika aku mengambil mukena ku,aku melihat mukena ibuku yang sudah bolong,terbesit lah kata dihatiku “Inikah mukena mu ibu? kau ingin melihat ku memakai mukena bagus,dan tersenyum bahagia tapi sementara engkau.”
Tanpaku sadari air mataku membendung,dan jatuh di pipiku.Ibuku yang melihat air mataku jatuh di pipiku langsung mengusap air mataku.
“Ada apa nak?kok sedih?anak ibu ga boleh sedih.”
“ Ga apa-apa kok bu, aku Cuma sedih aja ngeliat mukena ibu yang rusak.”
“Oh mukena ibu. Nanti ibu beli mukena yang baru kalau ibu sudah punya uang.”
“ Biar aku saja yang beli mukena bagus untuk ibu.”
“Boleh,kalo kamu sudah sukses kamu baru boleh belikan ibu mukena baru.”
Mendengar ucapan ibu aku pun tersenyum,dan ibuku pun ikut tersenyum.Aku langsung bergegeas menunaikan sholat subuh,dan pulang untuk bersiap-siap untuk pergi sekolah. Tepat pukul enam pagi aku sudah siap untuk pergi ke sekolah.Sebelum berangkat sekolah aku melihat tudung di meja makan,dan ternyata tidak ada sarapan untuk pagi ini.
“Mungkin ibu tidak punya uang untuk membeli sarapan pagi ini.”
Lalu aku bergegas pergi ke sekolah. Aku pergi ke sekolah dengan menggunakan kedua kakiku. Meskipun kadang ada teman yang mengejekku karena aku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki tetapi,aku tidak pernah marah kepada mereka. Setiap mereka mengejekku  karena aku berangkat berjalan kaki, aku selalu berpir “Mungkin mereka belum mengerti apa saja manfaat dari berjalan kaki.”
Butuh waktu satu jam untuk sampai ke sekolah.Meskipun agak sedikit lelah tetapi aku tidak pernah mengeluh degan keadaan. Karena aku selalu mengingat pesan almrhum ayahku “Sesulit apapun rintanagan  jika kamu yakin denagan dirimu,dan tidak berputus asa kamu bisa melewati itu semua.”
***
Tepat pukul tujuh pagi aku sudah sampai di sekolahku dan beberapa menit lagi bel sekolah berbunyi.Aku bergesas menaiki anak tangga untuk menuju kelasku yang berada di lantai tiga. Setelah menaiki anak tangga aku pun langsung memasuki ruang kelasku yang ramai. Aku duduk sebangku dengan Rainia dan aku langsung menyapanya.
“Hai nia,kamu terlihat cantik pagi ini”
“kamu juga terlihat cantik pagi ini lien, kamu sudah mengerjakan tugas belum?”
“Sudah dong.”
Tiba-tiba Bu zahra masuk ke kelas memberikan pengumuman. Bu Zahra adalah guru mata pelajaran Matematika,dan bu zahra pula yang memasukan aku ke sekolah ini lewat jalur beasiswa.
“Anak-anak,”ucap bu zahra melepaskan kaca mata merah nya,dan duduk di meja guru dengan tatapan penuh misteri.
“Kalian tahu bukan sekolah ini,sekolah terbaik di kota kita??”
“Jadi ibu minta tol,”
“Assalmualaikum,bu zahra maaf saya ingin bertemu aliena,”tiba-tiba pak mas’ur,salah satu guru di sekolah ku datang dengan ngos-ngosan,dan menyebut nama ku,ya ‘Aliena’.Sontak aku kaget,dan langsung berlari ke luar kelas.Aku sudah tahu itu,pasti ada masalah lagi!.
***
Aku berlari menuruni anak tangga,dan berulang kali berteriak nama“Ammir-ammir!,sudah berapa kali kakak ucap,kau tak boleh berrantem dengan kawan engkau ammir!”
“Lien-lien,”ucap pak mas’ur.Aku mengacuhkan nya.
“Ammir,dimana kau dik!”aku benar-benar geram.Ammir adiku,ia anak yang liar setelah ayah ku meninggal.
“Lien,nak,aliena!!”ucap pak mas’ur ngos-ngosan.Aku rasa ini bukan tentang adiku ammir.
“Ibumu terkena musibah nak.”Tiba-tiba ibu fitri,kepala sekolah kami datang di lorong sekolah.
“Musibah?!”
***
Sudah lima hari ibu tak pulang.Tak ada kabar gembira selama berhari-hari ini.Yang aku tahu ibu tertiban longsor,lalu di bawa ke rumah sakit di tengah kota.Ini bukan sembarang kota,kota ini sangat luas.Butuh waktu yang lama menuju ke sana.Apa lagi jika aku harus ke sana,tak mungkin.Aku ini tak hapal jalan di kota,selain jalan ke sekolah.Aku ini kan orang pinggiran.Mau naik apa!!,berjalan kaki??,yang ada malah tersesat!.Payah!!
Beberapa kali terbesit di pikiran ku,apa ibu akan pulang kesini dengan keadaan baik baik saja??,atau sebalik nya?,naudzubillah.Aku juga sangat ingin membelikan mukena baru untuk ibu dalam waktu dekat ini.Namun keadaan berkata lain.Keadaan aku,dan ammir semakin terpuruk.Untuk makan saja susah.Apa lagi membeli mukena yang layak.
Ah,menyebalkan sekali bukan.Kini aku benar-benar manusia yang kehilangan rasa semangat.Tak ada ibu yang memberi inspirasi kepada ku.Aku rindu ibu,aku ingin sekali memberikan mukena layak untuk ibu.Mestipun untuk terakhir kali nya.Ah,naudzubillah.Pikiran ku sungguh sedang kacau balau!
“Kak,ibu kapan pulang!”
“Kau ini!,aku saja bingung.”aku mengernyit.
“Kak,ayo kita ke sana!”
“Mir,jika kakak mu ini bisa....,kita sudah bermalam di sana saat ini.”ucap ku lelah.
“Mir,kakak ingin memberi mukena untuk ibu.”
“Mukena?”
“Sudah lah!,sana kau tidur.”Aku menyuruh ammir tidur.Namun tidak dengan aku.Aku mencoba menyelinap ke luar rumah untuk mencari angin.
***
Aku tahu dunia ini tak akan pernah tidur,sekali pun ia menjadi cipataan Allah yang pemalas,karena apa?,karena Allah sudah mendesign nya dengan sangat berbeda.Ini salah satu nikmat nya.Bintang-bintang berserakan tak teratur di luar sana,di bebas nya malam gelap itu.Aku rindu ibu,aku juga rindu ayah di akhirat sana,apa ibu baik-baik saja.Apa ayah senang di akhirat sana.Mengapa kejadian datang selalu tak terduga.Dunia oh dunia,jikalau aku bisa berbicara padamu melalui apa pun itu,telphone kah,bicara bisasa kah,atau bahkan telepati,aku akan mencurah kan nya pada kau.
“Nak-nak.”ucap seorang bapak tua yang mengusap kepala ku.
“Hidup jangan pernah di bawa pusing!”
“Biarkan belanjut seperti air yang mengalir,terus mengalir lalu terbendung di muara.”
“Kakek siapa?”
“kamu tak perlu tahu siapa kakek,yang perlu kamu tahu jangan pernah berputus asa.Jangan pernah mengkait-kaitkan masalah yang sebenarnya sangat bisa kau atasi,dengan mimpi mu.”
“Kakek siapa??”aku mengucapkan kembali pertanyaan ku.
“Jika ini kesempatan terakhir mu,jangan pernah menunda nya lien.”
Aku mengernyit,kesempatan terakhir??
“Tapi!”
“Sudah,kakek ini sangat-sangat sudah lapuk.Kakek harus pulang.”
“Baik kek.”jawab ku tersenyum.Ia membalikan badan nya dan memegang pinggul nya.
“Terimakasih,kek.”Ujar ku dengan keras dan bersemangat.Kakek itu memberikan jempol nya,namun ada yang aneh,kuku nya tak terlihat,tangan nya berbeda.Ku alihkan pandangan ku ke bawah.
“Hah!”dengan cepat aku menutup mulut ku.
Kakek itu kok,gak punya kaki??,kok ngambang,terus kok tau sih nama ku lien?iih.ucap ku dalam hati,dengan bingung.
Aku melihat sesuatu di samping ku,sebuah tas kecil berwarna hitam.
“Bukan nya itu milik kakek yang tadi?”aku menduga-duga.Namun saat aku mencari si kakek,hasil nya nihil.Dengan cepat aku membuka isi tas kecil berwarna hitam itu.
“Bismillah,maaf ya kek.”Ada surat di dalam nya,dengan sergap ku buka dengan hati-hati pasti nya.
Untuk anak yang baik hati di dunia.
Nak,aku sungguh terpukau melihat mu saat kau ingin memberikan mukena untuk ibu mu,tak usah kau tanya siapa aku,malaikat kah,atau yang lainya,yang penting semua tak ada yang tidak mungkin bagi Allah bukan.
Pakai lah dengan sebaik mungkin,oh ya semoga ibu mu lekas sembuh,dan adik mu ammir,jagalah dia,bisa jadi nak,dia saudara terbaik kau satu-satunya kelak.

Dan tak lupa,dunia pun memberi salam hangat pada kau.

Mataku berbinar membaca surat itu,benarkah ini,apa aku tak bermimpi.segera ku bongkar isi tas itu.Uang 500 ribu,dan dua pasang anting emas??.Aku langsung bersujud saat itu juga.Dan segera menuju ketoko pakaian muslim yang masih buka.Ku belikan dua buah mukena,satu sarung,dan kopiah,tak lupa,tiga sajadah yang ada gambar ka’bah di tengah nya,dan satu buah mushaf berwarna emas.
***
Tiba-tiba saat aku pulang,aku sangat gembira tak terkira.Ibu ku sudah ada di kasur dengan keadan sehat wal afiat di temani adiku,dan beberapa ibu-ibu.
“Haduh,lien!!,kemana saja kau.Ibu mu ini cemas lien.”ucap ibu memeluku.Lalu saat itu juga ku berikan mukena nya,dan ku ceritakan ke jadian nya.


Amalia fikriaini & cut shafia hasan #salam sahabat

Comments

Popular posts from this blog

Dandelion

Bikin stress,bikin enek,bikin males.Media Social.